Antara Dian & Al-Qur'an Itu

Aku kembali menghirup udara pagi yang kurasa masih terlalu enggan kunikmati tatkala aku menginjakkan kakiku di sekolah. Rasa malas masih mengganggu pikiranku. Tapi tekadku untuk belajar dan kangen teman-teman karena buaian di libuan semester lalu, membujukku untuk semangat ke sekolah. Hari baru kunikmati bersama, menginjakkan kaki di kelas yang masih terasa asing bagiku. Ku lihat matahari semakin menampakkan diri seraya anak-anak baru mulai berdatangan. Biasanya ini jadi kesempatan para senior untuk cari sensasi baru atau bias dikatakan cari perhatian kepada para juniornya. Kutebarkan pandanganku di depan kelas. Mungkin saja ada sesuatu yang bias kuajak bermain, atau apalah itu.

“Hai, sob!! Ngapain pagi-pagi udah bengong?,” sambil menyeretku keluar kelas, Fandi seperti ingin memperlihatkan sesuatu padaku.

“Apan sih! Perasaan aku nggak bengong?,” kataku berontak melepaskan tangan Fandi yang sedari tadi menikam tasku.

“Liat,gak? Cewek yang ada di dalammasjid itu?”

“He.em. emang napa?”

“Samperin yuk!”

“Ogah. Males aku. Kamu ajalah”

“Tumben biasanya elu yang hobi ngecengin junior..”

“Aduuuh, berisik deh. Cepet sana. Aku mau ke kantin aja”

Tanpa banyak kata lagi, aku segera melangkah menuju kantin. Namun saat akan masuk kantin, seorang junior berjilbab menabrakku. Bruakk!! Buku-buku yang dia bawa berjatuhan.

“Auuw… maaf,kak. Aku nggak sengaja. Aku tadi buru-buru,”

“Eh, iya…nggak papa. Aku juga minta maaf,” aku bingung, biasanya aku langsung membentak jika ada orang yang menabrakku. Tapi kenapa aku tadi nggak marah, ya?. Aku melihat cewek itu berlari menuju masjid. Masya Allah, aku tadi menjatuhkan Al-Qur’an cewek itu




bersambung....

Categories: