sebuah nama, seindah kisah

“Ra,cepet kemari !”
“Iya, bu. Ada apa?”
“Lihat !! apa-apaan kamu ini, nyuci aja kok nggak bersih.”
Begitulah kehidupanku selama ini. Aku adalah gadis malang yang haus akan kasih sayang, hidup tanpa keceriaan. Namaku Advina Dirasita Laksmi. Orang-orang biasa manggil aku dengan sebutan Ira. Aku seorang anak sulung. Jadi tak heran jika aku yang bertanggung jawab atas semua pekerjaan di rumah. Mulai dari kerjaan yang enteng kayak nyapu sampek kerjaan beratpun , tiap hari aku yang ngerjain. Biasanya jika ada kerjaanku yang kurang baik, pasti ibu langsung menegurku. Maalah sepele saja bisa jadi besar kalo urusan sama ibu. Cercaan bertubi-tubi datang padaku. Namun, sayangnya ayah tak pernah tau sikap yang diberikan ibu kepadaku. Padahal , aku masih anak SMA, itupun masih sebulan lalu masuk sekolah. Beban yang kubawa semakin berat rasanya. Tapi orang tuaku tak pernah menyadari semua itu.
Pagi itu, hal yang rutin kulakukan setelah shalat subuh, memasak, kemudian cuci baju, nyapu dan cuci piring. Aku merasa lelah sekali. Mataku begitu berat. Aku melirik jam dinding. Agh! Masih jam 5 pagi. Ibuku belum juga bangun. Akhirnya aku merebahkan tubuhku sejenak di kamar. Mentari yang belum juga muncul membuatku terlelap lagi. Badanku tak seperti biasanya. Tiba-tiba ada suara orang membuka pintu kamarku. Kreekk...
“Ya ampun..! Bukannya cepet mandi, e...malah enak-enakan tidur. Dasar anak manja!!! Bangun..” aku kaget dan segera bangun. Kulihat ibu sudah menampakkan wajah marahnya. Aku tertunduk.
“Maaf, bu! Hari ini Ira kayaknya lagi nggak enak badan. Ira capek, Bu” jawabku seraya berdiri mendekati ibu.
“halah! Alasan aja, masih kecil kok males-malesan. Mau jadi apa kalo udah gede? Ha?!”
Aku hanya diam, karena sudah tidak tahan dengan omelan-omelan ibu. Akhirnya kupaksakan kakiku untuk mandi. Dan ......... segera keluar dari rumah !
Di sekolah
“pagi, Ra! Tumben datengnya jam segini?”
“ah, nggak pa-pa. Bosen aku dateng pagi-pagi mulu. Sekali-kali dong datengnya agak telat dikit.” Aku tersenyum mencoba menahan sakit yang kurasakan. Aku nggak pengen terlihat lemah di depan sahabatku. Deasta, dia adalah satu-satunya teman yang aku percaya untuk dengerin semua curhatanku. Dia bisa ngerti gimana posisiku saat ini. Kalo lagi denger ceritaku tentang ayah yang jarang pulang karena sibuk dengan kerjaannya, dan ibu tiriku yang terlalu mengekangku. Dia pasti hanya bisa berkomen ‘ sabar’.
“sabar, ya Ra! Pasti suatu saat semua akan terungkap.”
“tapi sampai kapan, Deas ?”tanyaku dengan nada meninggi
“biar waktu yang jawab semuanya.”aku hanya bisa mengangguk pasrah. Kami diam.
“lho,Ira. Wajahmu kok pucat? Kamu sakit?”
“ah, enggak tuh. Biasa aja.”
“lah.... beda kok. Ke UKS aja, yuk!”
“enggak. Aku kan gak kenapa-napa.”
Tiba-tiba ada seseorang yang memegang pundakku. Aku kaget. “udahlah. Ke UKS aja, ya!”
Sapanya lembut. Ternyata orang tiu Daril. Astaga! Dia, kan...... aku Cuma balas dengan senyuman.”ayo, Ra. Ke UKS,”ujar Deasta sambil terus menggeretku.” Nggak!” seruku yakin. Deasta dan Daril terus aja maksa aku buat ke UKS. Namun mereka gagal membujukku.
Pada jam pertama, pelajaran matematika, buat kepalaku tambah pusing. Deasta sesekali memandangiku. Sementara Daril terus memandangiku dari kejauhan dengan tatapan kasihan. Aku merasa sudah tidak kuat lagi. Aku izin pada guru matematika untuk ke toilet sebentar. Tapi saat aku masih di depan pintu kelas, gubrak!! Aku gak ingat apa-apa lagi.
*******
Aku mencoba membuka mataku yang tersa masih berat. Ku lihat cahaya putih yang memenuhi sudut pandangku. Dimana aku? Apa yang sebenarnya terjadi? Dan kenapa kau terbaring di sini. Tersadar bahwa aku ada di ruang pasien. Ya, aku di rumah sakit. Tiba-tiba sesosok bayangan putih menghampiriku. Dia menyentuhku dan memegang nadiku. Aku pura-pura menutup mata lagi.
“Dokter, keadaannya sudah membaik ,” ujar seseorang.
“baiklah suster cepat ganti infusnya dan cepat beri dia asupan makanan kalau sudah sadar.”
“baik dokter!”
Aku mengintip lagi. Kulihat suster dan dokter itu sedang bicara serius. Aku iseng-iseng buat nguping pembicaraannya.
“dokter, bagaimana kita nanti beritahu keluarga pasien mengenai penyakit yang diderita pasien. Saya khawatir nanti keluarganya tidak bisa menerima.”
“saya tahu. Tapi sebaiknya kita bicarakan baik-baik dengan keluarga pasien. Pasti mereka bisa menerima.”
Ups! Ternyata itu pembicaraan tentang diriku. Aku terus mendengar tiap kata dari mereka. Sebenarnya aku sakit apa sampai mereka terlihat panik seperti itu.
“jadi, kita harus terus terang untuk memberi tahu bahwa pasien mengidap penyakit kanker akut yang umurnya tidak akan panjang lagi.”
“ Baiklah, saya mau ke Lab dulu. Tolong jaga pasien baik-baik.”
Deg ! aku kaget. Aku punya penyakit kanker, aku segera membuka mata dan memanggil suster itu. ”suster, bolehkah saya minta satu hal?” suster itu mengkerutkan dahinya “ kamu sudah sadar? Ya, kamu minta apa?”
“Tolong rahasiain penyakitku kepada siapapun termasuk orang tuaku. Aku mohon.” Tampaknya suster itu bingung kok-bisa-tahu-tentang-itu. Aku segera membalikkan keadaan.
“emm...maaf suster! Tadi saya sebenarnya mendengar perbincangan suster dengan dokter tentang penyakitku.” Suster itu mendekatiku,”tapi,dek. Ini bukan untuk main-main.”
“ saya ngerti. Tapi saya mohon.”dengan bujukan dan pasang wajah melas akhirnya suster itu mengiyakan dengan syarat akan dibicarakan dulu dengan dokter.
Suster itupun berlalu. Aku mendengar suara gaduh dari luar kamar. Aku segera menutup mata kembali. Tapi sesekali aku buka mataku perlahan-lahan untuk melihat keadaan. Kulihat banyak kawan menjengukku. Dan kulihat pula Daril dan Deasta berdiri disamping ayahku. Akhirnya ayah peduli juga padaku. Coba kalau aku gak sakit, pasti ayah gak bakalan peduli. Tapi, ibu kemana? Kenap ibu gak dateng?aku segera menepis pikiranku. Alah! Jangan harap deh. Boro-boro mau diperhatiin. Diajak ngobrol aja jarang kok! Aku kembali terpejam mencoba memutar memori yang usang di otakku.
Saat itu, aku masih umur dua tahun. Jadi aku masih imut-imut. Aku begitu senang dan bahagia. Hidup bersama ayah dan bunda. Namun suatu musibah datang melaanda keluargaku. Dengan tanpa permisi, bunda yang kusayangi meninggalkanku dan ayah karena penyakit paru-parunya. Aku masih ingat bagaimana bundaku mengelus lembut kepalaku sebelum detik terakhir bunda pergi. Bunda sempat berpesan padaku. “Ira sayang. Maafin bunda. Bunda nggak bisa temenin Ira lagi. Bunda nggak bisa lagi nyiapin baju dan sarapan Ira. Bunda juga nggak bisa lagi nasehatinIra, bacain dongeng buat Ira. Ira anak satu-satunya bunda. Jangan nakal ya, nak ! Ira harus janji sama bunda, selalu inget bunda, nurut sama ayah. Bunda pasti seneng liat Ira jadi anak penurut dan nggak cengeng.” Aku mengangguk pelan. Dan akhirnya mautpun datang menjemput. Bunda tersenyum saat memejamkan matanya. Manis sekali. Ini terakhir kalinya aku bisa liat senyum bunda yang pasti selalu aku rindukan.......
Tanpa sadar aku meneteskan air mata. Dan hal itumembuatku membuka kembali mataku. Dan saat ku membukanya ayah, dan teman-temanku sudah ada di sampingku.
“Syukurlah, kamu sudah sadar.” Ujar ayah lega. Aku hanya tersenyum, dan memalingkan wajahku kepada Daril dan Deasta yang tak jauh dari hadapanku.
“Nak, lain kali kalau sakit bilang, kek sama ayah. Biar nggak gini. Oh, ya, ibumu tadi berpesan nggak bisa nemenin Ira disini soalnya ibu ada urusan mendadak dengan bibi. Syukurlah dokter hanya mengatakan kamu kelelahan aja.” Tutur ayah panjang lebar. Aku tersenyum kecut. Tapi dalam hati aku bersyukur, karena dokter merahasiakan penyakitku yang sebenarnya. Kok bisa ? ya nggak tau lah.
******
Hari demi hari terlewati seiring dengan berjalannya waktu. Lambat laun aku mulai dewasa dan sering ku berfikir. Kenapa aku ada di dunia ini hanya untuk menyesali keadaan. Dulu sebelum bundaku pergi, aku masih kecil. Dan sekarang aku harus mendapatkan pengganti bunda, yang tak lain adalah ibu tiri yang kini tinggal bersamaku. Setiap hari ada saja kesalahan yang aku perbuat. Padahal aku berusaha buat tidak bikin kesalahan sehari aja. Tapi kok mesti ada aja masalahnya. Tiap hari aku mendapat pencerahan alias omelan tak karuan dari ibu. Di saat-saat inilah aku selalu menyesali takdirku. Kenapa bunda segitu cepet pergi ninggalin aku. Kemana bundaku yang sabar dan penuh kasih sayang? Aku rindu bunda.
Sampai sekarang, aku tetaplah Ira yang terbiasa dengan kerjaan yang berat. Bahkan aku hampir lupa dengan umurku yang semakin pendek diburu oleh penyakitku itu. Tak satupun yang tau tentang penyakitku, termasuk ortuku dan kedua sahabatku hingga kini.
Seperti biasa, di waktu istirahat aku selalu duduk di pojok kelas buat curhat bareng bersama Deasta dan Daril. Tapi hari ini rasanya ada yang beda. Kedua sahabatku belum juga muncul. Padahal meski beda kelas kalo udah denger bel istirahat pasti langsung ke kelas. Akhirnya aku mutusin buat datengin mereka.tiba di depan kelasnya Daril aku ketemu Rendi, cowok yang pernah nyelakain aku.
“Eh,Ren! Lu liat daril nggak? ”
“Emm...kayaknya enggak deh. Emang ada apaan tumben lu nyariin dia. Biasanya aja dia yang nyamperin elu bareng Deasta, ” kata- kata Rendi. Tumben banget. Baisanya aja gak kayak gini.
“Lha makanya itu...gue kesini buat tanya ke elu. Kali aja lu tau,”
“Bentar ya, coba gue nanya ke temen gue. Pasti mereka tau,” Rendi kemudian berlari kecil menuju ke dalam kelasnya. Sementara aku duduk aja dan mainan hp di depan kelasnya sambil nunggu informasi dari Rendi. Kok aneh ya. Kedua orang itu gak nongol hari ini. Ada apaan sih? Pengen SMS tapi, ah napa juga aku bingung.
“Ra? ” sapanya mengagetkan aku.
“Eh, gimana ? Deasta ama Daril kemana?” aku berdiri di dekat Rendi.
“ Kata temen gue, Daril hari ini gak masuk.” Jawabnya singkat.
“Ah, elu. Ngasih info yang akurat dan lengkap, dong. Jangan setengah-setengah gitu.”
“Hehehe....jadi gini, Daril sekarang lagi ngikutin lomba di UNAIR. Lagian lu punya hp kagak di manfatin. SMS kek biar tau.” Jawab Rendi ketus. “Yee...kalo itu sih gak perlu ngomando. Udah gue SMS, tapi kagak nyambung terus. Makanya jadi anak jangan sotoy. Lha Deasta kemana?”
“Wah, kalo dia tadi katanya ke kantin sama Nicky.” Aku sedikit kaget. Kenapa dengan Deasta?
“Emm, kalo gitu thanks ya, Ren. Aku mau balik ke kelas dulu,”
“Oke deah...” tapi saat berbalik badan aku berpapasan sama Deasta. Aku segera menghampirinya. “Eh, Deas, tadi kamu kenapa kok gak ke kelasku?” Tapi yang ditanya malah melengos. Deasta tak menghiraukanku dan memalingkan mukanya. Rendi juga heran dengan sikap Deasta yang dingin kepadaku. Aku kembali ke kelas dengan muka lesu. Sebenarnya apa salahku sehingga tiba-tiba Deasta menjauhiku.
Kini aku benar-benar kesepian. Kedua sahabatku pergi tiba-tiba. Deasta menjauhiku tanpa alasan yang jelas, sedangkan Daril sekarang lagi ngikutin lomba di UNAIR. Hari ini benar-benar hari terburukku.
******
Satu masalah muncul lagi dalam hidupku. Masalahku kini tambah berat rasanya. Udah tiap hari harus berhadapan dengan ibuku yang garang, belum lagi ditambah dengan tugas-tugas di sekolah yang semakin tumpuk-menumpuk. Eh, sekarang tiba-tiba aku dijauhi oleh kedua sahabatku. Buat kesengsaraanku semakin sempurna. Sudah seminggu ini aku didiemin sama Deasta, dan ditinggal Daril lomba di UNAIR beberapa minggu, katanya sih dia dikarantina. Bener-bener gak enak banget. Aku sudah tak tahan dengan semua ini. Akhirnya aku mutusin buat bicaraain ini. Di sela-sela waktu istirahat aku nyempetin waktu istirahat buat ke kelas Deasta. Dan saat mau masuk ke kelasnya, aku bertabrakan dengan dia.
“Deas, aku mau bicara sama kamu.” Kataku penuh arti.
“ Apa penting aku bicara sama kamu lagi? ” ujarnya sambil berlalu meninggalkan aku. Aku segera menarik tangannya kuat-kuat. “Apa’an, sih ?!” Deasta mencoba mengelak, tapi genggaman tanganku terlalu sulit untuk dilepasin. “Deas, sebenernya apa sih yang kamu sembunyiin dari aku? ”
“Ha, apa nggak kamu yang nyembunyiin sesuatu dari aku? ” Deasta menatapku dalam-dalam.
“Maksud kamu apa?” Tanpa banyak kata lagi Deasta menggeretku ke dalam kelasnya. Sepertinya dia ingin menunjukkan sesuatu kepadaku.
“lihat, apa ini?? ” Deasta menunjukkan sebuah amplop buram. Pikiranku penuh tanda tanya. Saat aku akan tanya, Deasta tertunduk. Matanya berkaca-kaca. Aku bingung, sebenarnya apa isi amplop itu. “Deas, apa itu?”. Deasta kemudian memegang pundakku.
“Ra, apa kamu udah nggak percaya sama aku? Kenapa kamu nggak pernah cerita tentang ini. Aku ini sahabat kamu!” Deasta menjatuhkan air mata. “Aku nggak pernah nyembunyiin apapun dari kamu...”
“Termasuk ini??”
“Sebenernya apa itu, Deas?” aku bener-bener bingung. Tanpa kata lagi, Deasta menyerahkan amplop itu, sementara dia duduk. Aku tersentak, “dari mana kamu dapetin ini. Jelasin ke aku sejelas-jelasnya!”
“Aku rasa kamu yang perlu jelasin semuanya. Kenapa kamu sembunyiin ini semua dari aku? Apa kamu udah gak anggep jadi sahabat kamu lagi”. Aku tertunduk. Hampir aku tak kuasa membendung air mataku. Perlahan aku membuka mulutku yang sangat sulit untuk terucap. Sambil terbata-bata, aku mencoba buat jelasin semuanya.
“Deas, aku emang punya penyakit yang mustahil untuk sembuh. Umurku nggak akan panjang lagi. Aku takut kalo kamu tau, kamu akan jauhin aku. Aku nggak akan punya lagi orang-orang yang sayang sama aku lagi. Kamu, Daril, sama yang lainnya.” Aku menghembuskan nafas panjang. “ apa selelah kamu tau tentang penyakitku kamu akan jauhi aku?” selidikku sambil menatap sorot mata Deasta, mencoba menangkap tatapan yang ada di matanya. Aku menduga-duga setelah ini Deasta akan menjauhiku, mengejekku, dan sejenisnyalah. Aku sudah ber-negativ thinking. Tapi dugaanku salah besar. Deasta tiba-tiba mendekat, dan memelukku.
“Ra, aku ini sahabat kamu. Aku nggak bakal jauhin kamu apapun keadaan kamu, aku nggak peduli. Aku nggak akan pernah ngingkari janji kita dulu. Ra, sebenernya aku pengen kamu kalo ada apa-apa bilang sama aku. Aku kasian sama kamu,Ra, nanggung beban sendirian,” aku nggak bisa lagi nahan air mata. Ternyata Deasta bener-bener peduli sama aku.
“Makasih, Deas. Kamu emang sahabatku.”
Deasta menatapku dalam-dalam. Dan kami menangis bebarengan. Thanks God, Engkau telah memberiku seorang sahabat yang bener-bener ngerti tentang keadaanku. Tiba-tiba Daril datang. Daril rupanya sedari tadi memperhatikan kami. Aku menatapnya, aku takut kalo dia yang akan menjauhiku.
“aku udah tau yang sebenarnya, kok. Aku tetep sayang sama kamu. Kalian tetap jadi sahabatku, sampai kapanpun” aku lega sekali.
**********
Hmm.... hari demi hari kusambut dengan senyuman. Mencoba melupakan segala problema yang sekarang lagi ngaduk-aduk hidupku. Satu masalah terselesaikan. Pagi ini kusambut hari penuh ceria. Aku bangun, beraktivitas seperti biasa. Aku terbangun, membuka jendela pagi. Aku mengamati kalender mungil yang ada di meja belajarku. Ups! Aku hampir kelupaan. Hari ini ulang tahun bundaku. Berarti sepulang sekolah aku harus merayakannya.
Aku mengajak Deasta dan Daril buat nemenin aku ngrayain ulang tahun bunda. Aku terus membayangkan. Saat itu masih pukul 4 pagi, aku lagi nyuci piring

Categories: